Harum Pasar Kembang dan Sebuah Kenangan

Sebelum bercerita soal Pasar Kembang yang legendaris di Kota Solo, ada sedikit intermezzo ya. Jadi sewaktu kecil aku tinggal di Gondowijayan, sebuah area yang sangat dekat dengan kompleks Keraton Mangkunegaran. Eyang dari eyangku, atau kita menyebutnya mbah canggah Karyosasmito, adalah pegawai di Keraton Mangkunegaran. Beliau adalah pemilik generasi pertama rumah keluarga di Gondowijayan tersebut.

Tak heran nuansa Mangkunegaran turut mempengaruhi rumah keluarga kami. Dari bentuk dasarnya berupa Joglo hingga pemilihan warna pare anom (padi muda) yaitu hijau dan kuning khas Mangkunegaran untuk beberapa interiornya.

Mungkin karena dekatnya hubungan dengan keraton itu pulalah, budaya Jawa asli masih sangat dipelihara. Konon, beliau rutin menggelar pertunjukkan wayang kulit di rumah. Beliau juga menunjukkan rasa syukur pada Tuhan dan hormat kepada leluhur dengan media menaruh kembang setaman di sudut-sudut rumah.

Meskipun aku belum pernah bertemu mbah Canggah Karyosasmito, aku masih melihat budaya kembang setaman di rumah dari eyang buyutku, yaitu Mbah Harjosasmito.

Meskipun beliau adalah seorang muslim, budaya menyiapkan kembang setaman di rumah masih dipertahankan. Kata beliau ini merupakan bentuk dia melestarikan budaya leluhur. Ini adalah contoh bentuk akulturasi budaya dan kearifan lokal. Uniknya masing-masing bunga dalam rangkaian kembang setaman punya makna filosofisnya yang dalam yang sangat bagus untuk inspirasi kehidupan seorang muslim.

Kembang setaman terdiri dari bunga mawar merah dan putih, melati, kenanga serta kanthil (cempaka). Kurang lebihnya mawar merah merupakan simbolisme proses lahirnya manusia ke dunia dimana hati nurani mulai terbentuk. Mawar putih melambangkan kedamaian dan ketentraman. Melati membawa sifat ketulusan dan kejujuran. Kenanga mensimbolkan rasa hormat kepada leluhur dan kepedulian kepada lingkungan sekitar. Sedangkan kanthil menggambarkan pengharapan dimana ilmu dan jiwa spiritual harus dikuatkan untuk meraih kesuksesan lahir batin.

Untuk mendapatkan kembang setaman ini, mbah buyut cukup membelinya di Pasar Kembang Solo. Sangat dekat, cuma 800 meter dari rumah, atau sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Lokasinya di pusat kota. Sebelah selatan Hotel Novotel, kalau dari hotel ini cukup jalan 5 menitan lah.

Pasar ini memenuhi kebutuhan kembang untuk masyarakat Solo dimana yang paling banyak untuk kebutuhan nyekar atau takziah maupun kelengkapan dalam upacara perkawinan khas Jawa.

Meskipun tempat ini sangat akrab dengan sejarah keluarga kami, aku sendiri belum pernah kesana. Baru saat libur lebaran 2018, aku pun menyempatkan diri kesana. Itupun karena aku sekeluarga sedang makan di warung bestik di sebelahnya. Jadi pas lah, makan sekalian bereksplorasi.

Melewati Pasar Kembang di kala malam terasa luar biasa. Harum semerbak yang begitu kuat serasa menjadi aroma terapi. Warna mencolok dari bebungaan juga seakan menyegarkan mata di hari yang sudah gelap.

Tampak pula beberapa padagang “jemput bola” dengan berjualan di luar pasar yaitu di emperan toko-toko yang sudah tutup di sekitaran pasar. Selain bunga aku lihat juga pedagang menjual beberapa perlengkapan pendukung seperti keranjang dan tampah bunga serta kendi air berbahan tanah liat.

Suasana pasar yang berdiri sejak tahun 1967 sangat hidup meskipun harusnya sudah tutup di jam 5 sore. Beberapa pedagang masih semangat menjual dagangannya.

Infonya pedagang tidak hanya datang dari Solo, tapi juga dari Boyolali dan Sukoharjo. Uniknya kebanyakan dari mereka menanam bunganya sendiri di rumah.

Keunikan lainnya adalah karena kebanyakan dari mereka memang aslinya saling bertetangga, jadi bila satu punya hajatan, banyak lapak tutup sekaligus bebarengan karena mereka turut membantu yang punya hajat.

Oya, selain berjualan bunga, ternyata lantai dua dari pasar ini menjual kebutuhan harian dapur.

Berjalan-jalan sebentar di Pasar Kembang sudah sangat senang. Ternyata terbukti memang bunga punya efek refreshing dan energising. Selain itu jadi inget almarhumah mbah buyut yang sering kesini demi tujuan melestarikan budaya Jawa. Semoga tenang selalu disana ya mbah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s