Libur Imlek di Klenteng Tertua Jakarta

Untuk mengisi liburan Imlek 2017, rasanya paling pas untuk mengeksplor budaya Tionghoa di Jakarta. Pastinya bakalan seru untuk eksplor dari unsur yang paling jadul. Akhirnya pilihan jatuh untuk pergi ke Klenteng Kim Tek Le yang merupakan klenteng yang tertua di Jakarta. Bangunan ini terletak di kawasan China Town-nya Jakarta yaitu di Glodok.

Ya siapa menyangka kalau klenteng yang biasa disebut juga sebagai Vihara Dharma Bhakti ini telah berusia lebih dari 350 tahun. Klenteng ini dibangun pertama kali oleh seorang Chinese Lieutenant bernama Kwee Hoen pada tahun 1650. Dari awal berdirinya, klenteng ini telah mengalami beberapa proses pembangunan maupun renovasi yang diantaranya merupakan akibat dari kebakaran.

Uniknya, konon kosakata “klenteng” berasal dari tempat ini. Jadi dulunya tempat ibadah ini bernama Kwam Im Teng. Namun, banyak penduduk lokal yang sulit untuk mengucapkannya dengan tepat. Mereka mentafsirkan penyebutannya ke kata klenteng yang kini malah populer sebagai penyebutan umum dari pagoda dalam Bahasa Indonesia.

Karena aku datang pas Imlek, tentunya banyak orang yang datang kesana. Dipastikan oleh petugasnya, disebutkan ada ribuan orang yang datang. Nggak cuma yang datang untuk beribadah, namun juga orang-orang yang ingin tahu sekaligus mengapresiasi budaya.

Untuk orang yang berniat untuk beribadah, disana tersedia puluhan patung dewa yang berbeda-beda yang dipercaya sebagai media untuk berdoa untuk kebutuhan yang berbeda-beda pula.

Ritual unik lain di klenteng ini adalah upacara Fangsheng. Kegiatan ini adalah melepaskan beberapa burung dari sangkar sebagai simbol kebebasan dan kasih sayang. Untuk mengakomodir ini, ada beberapa pedagang yang berjualan burung di depan klenteng.

Untuk beberapa orang, mereka membeli dan melepaskan burung dengan jumlah yang sesuai dengan angka usianya. Ada juga yang berniat melepas burung sebagai simbol melepas godaan dunia berbarengan dengan awal dia menjadi vegetarian.

Namun, buat beberapa orang kegiatan ini sedikit kontradiktif. Banyak burung yang disangkarkan dan dijual untuk kegiatan ini. Justru hal tersebut sedikit bertolak belakang dengan filosofi kebebasan pada Fangsheng itu sendiri.

Berjalan-jalan (dengan tetap menghormatinya sebagai tempat ibadah tentunya) di klenteng ini sungguh menarik. Nuansa merah, aneka patung, beragam ornamen hias otentik budaya Tionghoa, lilin-lilin raksasa menjadi daya tarik tempat ini.

Aneka kegiatan orang dari berdoa, menyiapkan dupa, atau sekedar berfoto menjadi hiruk pikuk yang tampaknya rutin di sini. Pedagang-pedagang pun berlalu lalang disini. Salah satu pedagang yang menarik perhatian adalah pedagang mainan anak. Mainannya pun sangat khas, seperti yang tampak di foto ini.

– 28 Januari 2017 & 5 Februari 2019 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s