Lokananta (Kembali) Menjemput Jaya

Lokananta tetap familiar bagi sebagian besar warga Solo, ditengah popularitasnya yang mungkin tidak seperti dahulu. Sebagai perusahaan label rekaman pertama Indonesia (berdiri 29 Oktober 1956), Lokananta Tumbuh sebagai kebanggaan kota ini.

Lokananta sempat kembali hits disaat hingar bingar klaim lagu Rasa Sayange oleh Malaysia. Lokananta secara valid mempunyai master rekaman dengan angka tahun yang membuktikan lagu tersebut memang lagu dari Indonesia.

Meskipun dikenal, sepertinya masih banyak warga Solo yang belum berkunjung langsung ke Lokananta. Mungkin wisatawan dari luar Solo juga tidak terpikirkan untuk memasukkannya dalam list to visit selama berkunjung di kota ini.

Begitu juga aku. Meskipun dari dulu ingin berkunjung kesana, disaat berkali-kali mudik ke Solo pun, aku belum pergi juga.

Akhirnya di tengah kebingungan untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, ketika mudik Lebaran 2018 aku memutuskan pergi ke Lokananta, and I think it is a good choice!

Setelah mencari informasi, aku menemukan agenda kegiatan yang menarik yaitu Tur Lokananta yang ada setiap hari Senin sampai Jumat. Dari pukul 8 pagi sampai dengan setengah 5 sore.

Cukup membayar tiket 20 ribu rupiah, pengunjung bisa didampingi pemandu untuk mengetahui seluk beluk bangunan dan cerita Lokananta. Tiket tersebut juga sudah termasuk merchandise berupa goody bag, stiker, dan pin.

Setelah booking by phone, kami sekeluargapun kesana. Anyway kalau mau datang langsung juga bisa. Cuma kalau datang dengan rombongan besar, disarankan untuk booking sebulan sebelumnya.

Kesan pertama melihat Lokananta ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Tidak seperti museum yang terbengkalai. Cat yang cukup baru dan lingkungannya yang bersih menghilangkan kesan angker dari gedung tua ini.

Ditambah alunan musik keroncong yang terdengar dari speaker-speaker yang dipasang di beberapa sudutnya, membuat suasana menjadi semakin nyaman. Romansa jadulnya pun juga semakin kuat.

Di tembok-temboknya, para pengunjung bisa melihat para musisi legendaris yang pernah menjadi bagian dari Lokananta seperti Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, dan Gesang. Ya, seperti wall of fame sederhana.

Selanjutnya, kami diajak ke Ruang Mesin Produksi Lama. Disini kami bisa melihat benda-benda yang merupakan alat rekam serta alat produksi kaset audio dan video dari zaman awal Lokananta berdiri hingga tahun 90an.

Selanjutnya kami lanjut di Ruang Arsip Piringan Hitam. Disini ada lebih dari 30 ribuan koleksi piringan hitam yang direkam dan diproduksi disini.

Beberapa koleksinya sangat berharga dan bersejarah, seperti piringan hitam yang merupakan souvenir untuk kontingen Asian Games ke-4 di Jakarta pada tahun 1962. Lagu-lagu tradisional seperti Rasa Sayange, Potong Bebek Angsa, dan Ayo Mama menjadi isi dari piringan hitam tersebut. Selain itu, ada juga koleksi lagu Indonesia Raya 3 stanza disini.

Tak lengkap kalau tidak lanjut blusukan di Studio Lokananta yang legendaris ini. Dijelaskan oleh pemandu, kalau studio ini merupakan studio rekaman terluas di Indonesia. Studio ini juga memiliki tata akustik sekelas internasional. Mixer analognya yaitu Triden 80D yang konon cuma ada dua di dunia pun juga masih aktif.

Di area ini pula, kami bisa melihat seperangkat gamelan yang dinamai Kyai Sri Kuncoro Mulyo. Menurut informasi yang diberikan, gamelan ini dibuat pada era Pangeran Diponegoro. Setelah beberapa kali berpindah kepemilikan di kalangan keluarga kerajaan, akhirnya gamelan ini menjadi penghuni tetap di Lokananta sejak tahun 1984.

Sepertinya gamelan ini menjiwai keberadaannya di Lokananta. Menurut testimoni beberapa pihak, terkadang mereka mendengar gamelannya berbunyi dengan sendirinya. Tampaknya hal tersebut cocok dengan nama Lokananta yang berarti gamelan yang berbunyi dengan sendirinya di kayangan.

Sesi tur akhirnya pun berakhir. Kami pun bisa membeli merchandise tambahan seperti cd dan kaset para musisi yang merekam karyanya di Lokananta. Sayangnya, kami tidak bisa mendengarkan langsung piringan hitam yang diputar disini. Katanya hanya bisa untuk rombongan besar dengan request khusus.

Well, dari adanya tur ini, aku merasakan bahwa Lokananta bisa mulai kembali menjemput kejayaannya. Masyarakatpun mulai datang untuk mengapresiasi lebih jauh peran Lokananta dengan perspektif yang lebih beragam.

Kejayaan bukan berarti sekedar menjadi perusahaan rekaman terbaik, tapi bisa berupa peran sebagai pusat sejarah musik Indonesia. Dengan lokasinya yang strategis dengan ketersediaan venuenya, Lokananta juga bisa menjadi titik temu para komunitas pecinta musik untuk berkarya dan bertukar inspirasi.

Ada juga kabar yang mengatakan Lokananta akan dipugar seperti Pabrik Gula Tjolomadoe yang kini telah bertransformasi sebagai tempat wisata dan hiburan berkelas dunia. Semoga Lokananta bisa sampai ke tahap itu dan mampu menjemput kembali jayanya.

– 21 Juni 2018 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s